Sekilas tentang Cangkir Oleh: Didik Wahyu


Cangkir.
Kalau anda penggemar kopi, anda tentu saja mengenal cangkir. Pernah di dalam satu perdebatan tiga orang penggemar kopi, semuanya mengeluarkan argumen tentang bagaimana kopi yang enak itu. Unsur apa saja yang harus ada di dalam penyajian kopi itu.
            “Yang terpenting adalah pas komposisi perbandingan antara air dan bubuk kopinya.” Kata orang pertama.
            “Bukan itu. Yang keluar bersama kotoran luwak yang enak.” Kata orang kedua.
            “Gula tidak terlalu dominan.” Jawab orang ketiga.
Di tengah perdebatan sengit itu, datang seorang tua renta.
            “Yang kalian omongkan itu betul semua. Tapi jangan lupa CANGKIRnya!!!”

Begitulah kami memaknai cangkir. Meskipun kecil, tapi cangkir tetap memiliki peranan penting di dalam penyajian minuman. Sama halnya dengan nama majalah ini. Cangkir. Meski sederhana diharapkan mampu memberikan manfaat khususnya di bidang seni budaya Nusantara.
Bukan itu saja. CANGKIR, Cangkeming Pikir. Mulutnya pikiran. Juru bicara bagi akal pikiran kita. Juru bicara yang tidak lantas bicara begitu saja tanpa dipikir sebelumnya. Kalau mulut kita mengeluarkan kata-kata dan tangan kita menuliskannya, sebenarnya akal pikiran kita yang berbicara.
Majalah cangkir merupakan media hasil olah pikir kita, bahkan olah rasa kita untuk ikut menyumbangkan sedikit ilmu pengetahuan yang kita miliki di bidang seni budaya Nusantara. Begitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar